Palu, JapriNews.id – Tekanan terhadap lingkungan hidup di Sulawesi Tengah terus meningkat seiring masifnya aktivitas eksploitasi sumber daya alam, terutama di sektor pertambangan dan alih fungsi lahan.
Dalam kondisi tersebut, jurnalis dituntut tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi juga memastikan kepentingan publik terjaga melalui peliputan yang kritis dan berbasis data.
Menjawab tantangan tersebut, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wilayah Sulawesi Tengah menggelar Pelatihan Jurnalis Lingkungan bertema “Menulis untuk Menyelamatkan Alam”, di Kota Palu pada 8–9 Januari 2026.
Kegiatan ini berlangsung di Hotel Santika dan diikuti oleh 30 jurnalis dari berbagai kabupaten/kota di Sulteng, mewakili media cetak, daring, hingga komunitas jurnalisme independen.
Jurnalisme Harus Bongkar Akar Masalah
Ketua AMSI Sulawesi Tengah, Muhammad Iqbal, menegaskan bahwa jurnalisme lingkungan tidak boleh berhenti pada level pelaporan peristiwa.
“Jurnalisme lingkungan harus mampu membongkar akar persoalan, menguji kebijakan, dan memastikan pembangunan tidak merampas hak ekologis masyarakat,” ujar Iqbal, Kamis 08/01/2025.
Iqbal menilai Sulawesi Tengah berada pada persimpangan antara kepentingan ekonomi dan keberlanjutan alam. Karena itu, jurnalis harus hadir sebagai penjaga nalar publik dan masa depan generasi mendatang. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas media agar liputan lingkungan memiliki daya dorong yang lebih kuat.
“Jejaring yang kokoh memungkinkan liputan mendorong perubahan kebijakan,” tambahnya.
Industri Tekankan Transparansi Informasi
Dari sektor industri, Corporate Communication Manager PT Donggi Senoro LNG (DSLNG), Adhika Paramanandana, memaparkan perspektif perusahaan terkait pengelolaan lingkungan dan pentingnya komunikasi berkelanjutan. Menurutnya, transparansi merupakan kunci membangun kepercayaan publik.
“Komunikasi yang terbuka menjadi kunci dalam membangun kepercayaan publik terhadap pengelolaan lingkungan di sektor industri,” kata Adhika.
Ia menilai media memiliki peran strategis dalam menyampaikan isu lingkungan secara berimbang agar masyarakat mendapatkan informasi yang utuh.
Pemimpin Redaksi National Geographic Indonesia, Didi Kaspi Kasim, hadir sebagai pembicara utama dengan materi “Palu Bercerita: Menggugah dan Jurnalisme Lingkungan”. Ia menekankan pentingnya pendekatan storytelling dalam mengemas liputan isu ekologis.
“Data dan fakta adalah fondasi jurnalisme. Namun cerita yang kuat membuat publik peduli dan tergerak,” jelasnya.
Didi mendorong jurnalis untuk menghubungkan krisis lingkungan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat agar dampaknya terasa nyata, bukan sebatas angka statistik.
Sorotan Krisis Ekologi dan Lingkar Tambang
Perwakilan Yayasan Komiu menyoroti dampak pertambangan terhadap ekosistem dan ruang hidup warga, terutama di wilayah lingkar tambang.
“Aktivitas pertambangan menimbulkan tekanan serius terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat. Advokasi membutuhkan jurnalisme yang berani dan berpihak pada fakta,” tegas mereka.
Selain paparan narasumber, sejumlah jurnalis Sulteng turut berbagi pengalaman liputan investigatif terkait isu ekologis. Mereka menekankan pentingnya riset mendalam, keberanian di lapangan, serta jejaring yang kuat antarjurnalis, terutama di tengah berbagai tekanan yang kerap muncul saat meliput isu lingkungan.
Bangun Jejaring Jurnalis Lingkungan
Pelatihan berlangsung secara partisipatif melalui diskusi, studi kasus, pemaparan, simulasi penulisan, dan bedah karya. Selain meningkatkan kapasitas teknis, kegiatan ini juga bertujuan membangun jejaring jurnalis lingkungan lintas wilayah dan media di Sulawesi Tengah.
AMSI Sulteng berharap pelatihan ini dapat melahirkan karya jurnalistik yang kritis, berbasis data, dan berpihak pada kelestarian alam.
Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama AMSI Sulteng dengan PT Donggi Senoro LNG, lembaga lingkungan, serta komunitas jurnalis lokal sebagai bagian dari upaya memperkuat kontribusi media dalam menjaga keberlanjutan ekologis di Sulawesi Tengah.


