Jakarta, Japrinews.id – Presiden Prabowo Subianto menyinggung kondisi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dinilai tidak produktif dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat 14/08/2026
Prabowo mengatakan masih terlalu banyak BUMN yang dinilai tidak produktif dan terus mengalami kerugian, meski dalam laporan keuangan tercatat memperoleh keuntungan.
“Kalau saya laporkan semuanya, saya takut rakyat kita marah semuanya. Saudara-saudara, terlalu banyak BUMN yang tidak produktif. Rugi terus, (tapi) laporannya untung. Ngarang aja itu untungnya,” kata Prabowo.
Karena itu, pemerintah berencana melakukan restrukturisasi dan transformasi terhadap BUMN dengan mengurangi jumlah perusahaan yang dinilai tidak produktif. Langkah tersebut ditujukan agar BUMN yang dipertahankan mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Prabowo menyebut pemerintah telah menutup 290 BUMN. Hingga 31 Desember 2026, pemerintah menargetkan jumlah BUMN yang tersisa paling banyak 300 perusahaan.
“Hari ini kita telah menutup 290 BUMN. Pada 31 Desember 2026 kita targetkan hanya akan memiliki paling banyak 300 BUMN, 750 BUMN lebih akan kita tutup,” tuturnya.
Menurut Prabowo, pemerintah hanya akan mempertahankan BUMN yang produktif dan mampu menciptakan nilai tambah bagi rakyat. Ia juga menyebut langkah tersebut sebagai salah satu restrukturisasi korporasi terbesar di dunia.
Dari perampingan jumlah BUMN tersebut, Prabowo mengklaim pemerintah telah menghemat anggaran sekitar Rp50 triliun. Pemerintah menargetkan penghematan tersebut meningkat menjadi lebih dari Rp70 triliun hingga akhir Desember 2026.
“Target kita Desember 31, target kita harus menghemat 70 triliun lebih,” kata Prabowo.


















