22.5 C
Indonesia
Sunday, December 7, 2025
spot_img

Rektor UIN Palu: Menag Nasaruddin Umar, Jembatan Nurani dan Cahaya Perdamaian Dunia

Palu, Japrinews.id — Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu Prof. Dr. H. Lukman Thahir menilai bahwa sosok Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A., merupakan inspirasi besar bagi dunia Islam modern yang damai dan inklusif.

“Beliau bukan hanya seorang Menteri Agama, tetapi jembatan nurani yang menghubungkan Timur dan Barat, Islam dan Kristen, tradisi dan modernitas, serta iman dan kemanusiaan,” ujar Prof. Lukman.

Menurutnya, kiprah Menag Nasaruddin telah menunjukkan bahwa agama sejati adalah energi pemersatu, bukan sumber perbedaan. “Dari beliau, kita belajar bahwa kasih tidak memerlukan penerjemah agama,” lanjutnya.

Tak hanya memuji, Prof. Lukman juga mengusulkan agar dunia internasional memberikan penghormatan kepada Menag Nasaruddin Umar sebagai Tokoh Lintas Agama Dunia yang layak meraih Nobel Perdamaian.

“Dengan segala hormat, dan atas restu Bapak Menteri, kami mengusulkan kepada dunia internasional agar Prof. Nasaruddin Umar layak menerima Nobel Perdamaian,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.

Rektor UIN Palu mengisahkan kembali momen yang membekas dalam sejarah hubungan lintas iman, yakni pertemuan antara Paus Fransiskus dan Prof. Nasaruddin Umar di Masjid Istiqlal, Jakarta.

“Itu bukan sekadar gestur, tetapi doa yang berwujud tindakan. Sebuah pesan kepada dunia bahwa cinta dan perdamaian dapat menembus batas keyakinan,” ucapnya.

Ia juga menyinggung kunjungan Menag ke Vatikan, di mana Prof. Nasaruddin berkesempatan menyampaikan orasi perdamaian di hadapan Paus Leo XIV.

“Dari Istiqlal ke Vatikan, dari mihrab ke altar, dari Indonesia untuk dunia — Prof. Nasaruddin Umar menunjukkan bahwa iman dan kemanusiaan adalah satu tarikan napas,” tutur Prof. Lukman penuh makna.

Sebagai penutup, Prof. Lukman menegaskan komitmen UIN Datokarama Palu untuk melanjutkan nilai-nilai yang diperjuangkan Menag Nasaruddin Umar mengintegrasikan ilmu, iman, dan kemanusiaan dalam pendidikan tinggi Islam.

“Beliau menempuh jalan sunyi, tetapi langkahnya diterangi doa dari langit. Kami belajar bahwa kebesaran tidak diukur dari jabatan, melainkan dari seberapa besar cinta dan kedamaian yang kita sebarkan,” ujarnya.

Ia juga berpesan kepada para wisudawan agar menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai pedoman hidup di tengah masyarakat.

“Dari Palu, mari kita nyalakan api perdamaian untuk dunia. Jadilah sarjana yang membawa cahaya, bukan bara,” pungkasnya.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest Articles