Example floating
Example floating
Sulteng

Arya Sinulingga Tegaskan Dua Tugas Utama PSSI: Lahirkan Pemain Timnas dan Wasit Berstandar FIFA

7
×

Arya Sinulingga Tegaskan Dua Tugas Utama PSSI: Lahirkan Pemain Timnas dan Wasit Berstandar FIFA

Share this article
Arya Sinulingga menegaskan bahwa Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) memiliki dua tugas utama, yakni melahirkan pemain Tim Nasional (Timnas) Indonesia dan mencetak wasit berstandar FIFA di kegiatan kongres Luar biasa PSSI Sulawesi Tengah (Sulteng) Hotel Santika. Foto: Ris
Example 468x60

Palu, Japrinews.id – Arya Sinulingga menegaskan, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) memiliki dua tugas utama dalam membangun sepak bola nasional, yakni melahirkan pemain yang mampu memperkuat Tim Nasional (Timnas) Indonesia serta mencetak wasit berkualitas dengan standar FIFA.

Menurut Arya, kedua tugas tersebut harus menjadi fokus utama federasi, dengan memperkuat pembinaan sepak bola yang dimulai dari tingkat daerah, bukan hanya terpusat di tingkat nasional.

Ia menilai, selama ini pemenuhan kebutuhan pemain Timnas masih banyak bergantung pada program naturalisasi. Karena itu, PSSI perlu mendorong lahirnya talenta-talenta sepak bola dari daerah agar Indonesia memiliki sumber daya pemain yang kuat melalui sistem pembinaan berjenjang.

“PSSI itu hanya punya dua tugas. Yang pertama melahirkan Timnas, dan yang kedua melahirkan wasit standar FIFA,” tegas Arya.

Ia menjelaskan, upaya melahirkan pemain Timnas harus dimulai melalui pembinaan sejak usia dini atau grassroots. Program tersebut dirancang secara bertahap, mulai dari kelompok usia tujuh tahun dengan format permainan tiga lawan tiga, usia sembilan tahun lima lawan lima, usia 11 tahun tujuh lawan tujuh, hingga usia 13 tahun sembilan lawan sembilan.

Pembinaan selanjutnya akan dilanjutkan pada kelompok usia 15, 17, hingga 19 tahun sebagai bagian dari proses pembentukan pemain menuju level kompetitif.

Arya menekankan, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada peran PSSI kabupaten/kota sebagai ujung tombak pembinaan sepak bola di daerah.

Menurutnya, program yang telah dirancang federasi tidak boleh hanya berhenti di tingkat provinsi, tetapi harus benar-benar dilaksanakan hingga ke kabupaten/kota.

“PSSI kabupaten/kota wajib melaksanakan program grassroots, mulai dari usia tujuh, sembilan, sebelas, sampai tiga belas tahun. Kalau tidak dijalankan, perhatikan dan evaluasi. Kalau memang tidak bekerja, ganti saja,” ujarnya.

Ia juga menyinggung perubahan mekanisme penentuan ketua PSSI kabupaten/kota yang kini dilakukan melalui penunjukan oleh PSSI provinsi. Kebijakan tersebut, kata dia, merupakan bagian dari evaluasi terhadap pelaksanaan program federasi yang selama ini dinilai belum berjalan maksimal hingga ke tingkat bawah.

Arya berharap, penguatan pembinaan sepak bola usia dini dan peningkatan kualitas organisasi di daerah dapat menjadi fondasi untuk menghasilkan pemain-pemain potensial bagi Timnas Indonesia, sekaligus melahirkan wasit yang memiliki kemampuan dan memenuhi standar internasional FIFA.***

Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *