Palu, Japrinews.id — Penampilan seorang guru laki-laki di salah satu sekolah dasar (SD) di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, yang viral di media sosial mendapat perhatian dari Ketua Komisi IV DPRD Sulawesi Tengah, Hidayat Pakamundi.
Hidayat meminta pihak sekolah mengambil langkah pembinaan apabila penampilan guru tersebut dinilai tidak sesuai dengan ketentuan dan etika yang berlaku di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, guru memiliki posisi penting dalam proses pendidikan karena menjadi salah satu sosok yang diteladani oleh peserta didik. Karena itu, sikap maupun penampilan guru saat menjalankan tugas perlu memperhatikan aturan yang berlaku.
“Terkait berita viral, ada guru sekolah yang berdandan seperti perempuan. Guru laki-laki. Nah, ini menurut saya tidak dibolehkan,” kata Hidayat, Selasa 15/09/2026.
Ia menilai persoalan tersebut sebaiknya ditangani melalui mekanisme pembinaan di lingkungan sekolah. Kepala sekolah, kata dia, memiliki peran penting untuk memberikan arahan dan memastikan guru memahami ketentuan yang harus dipatuhi.
Hidayat mengatakan, teguran hingga sanksi dapat diberikan apabila setelah dilakukan pemeriksaan ditemukan adanya pelanggaran terhadap aturan kepegawaian maupun ketentuan lain yang berlaku.
“Hal-hal yang begini harus ditindakin. Diberikan teguran maupun diberikan sanksi. Karena guru ini sebagai teladan para murid,” ujarnya.
Ia menegaskan, selama berada di lingkungan sekolah, guru memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan sikap dan penampilan yang mencerminkan keteladanan bagi siswa.
“Guru adalah orang tua murid yang ada di sekolah. Kita menginginkan sebagai seorang guru, dia menjadi contoh yang baik bagi siswa-siswanya,” katanya.
Hidayat juga mengingatkan bahwa guru sebagai bagian dari lingkungan kepegawaian terikat dengan sejumlah ketentuan, termasuk aturan mengenai pakaian dan penampilan ketika menjalankan tugas.
“Kalau misalnya ada dandanan atau misalnya perilaku pakaian yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku, apalagi ini kita diikat oleh aturan kepegawaian, maka kita harus patuhi,” ujarnya.
Meski demikian, Hidayat menekankan pentingnya mengedepankan pembinaan sebelum mengambil langkah lebih jauh. Menurutnya, pembinaan diperlukan agar guru yang bersangkutan memahami aturan, etika, serta tanggung jawabnya sebagai tenaga pendidik.
Ia berharap persoalan tersebut dapat menjadi perhatian bagi seluruh pihak di lingkungan pendidikan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Dan saya pikir ini tidak boleh berulang dan jadi contoh-contoh di sekolah-sekolah lain,” tegasnya.


















