28.3 C
Indonesia
Sunday, January 18, 2026
spot_img

Rusia Desak AS Bebaskan Presiden Venezuela Nicolas Maduro

JapriNews.id – Pemerintah Rusia mendesak Amerika Serikat (AS) untuk segera membebaskan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang disebut telah ditahan pasukan khusus Amerika Serikat.
Desakan Moskow muncul beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Maduro dan istrinya ditangkap dalam operasi militer Amerika Serikat di ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu 03/01/2026 dini hari.

“Kami dengan tegas menyerukan kepada kepemimpinan Amerika Serikat untuk mempertimbangkan kembali posisi ini dan segera membebaskan presiden terpilih yang sah dari negara berdaulat beserta istrinya,”demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia.

Moskow menekankan pentingnya penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi guna menghindari eskalasi lebih lanjut.

Dalam pernyataan terpisah, Kementerian Luar Negeri Rusia menyampaikan bahwa Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov telah melakukan pembicaraan via telepon dengan Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez Gómez. Dalam percakapan tersebut, Lavrov menyatakan solidaritas Rusia kepada rakyat Venezuela dalam menghadapi apa yang disebutnya sebagai “agresi bersenjata”.

Sumber anonim kepada Reuters, Ahad (4/1/2026), menyebutkan bahwa Delcy Rodríguez saat ini berada di Moskow. Namun, otoritas Rusia membantah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai “berita palsu”.

“Rusia akan terus mendukung langkah-langkah yang diambil oleh kepemimpinan Bolivarian dalam membela kepentingan nasional dan kedaulatan Venezuela,” lanjut pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia, seraya memperingatkan bahaya eskalasi konflik yang lebih luas.

Sementara itu, Kedutaan Besar Rusia di Caracas menyatakan tetap beroperasi secara normal dan terus menjalin komunikasi dengan otoritas Venezuela serta warga negara Rusia di negara tersebut. Mereka juga memastikan tidak ada warga Rusia yang dilaporkan terluka dalam serangan militer AS.

Presiden Trump sebelumnya mengatakan bahwa militer AS melancarkan serangan skala besar terhadap Venezuela pada Sabtu dini hari. Ia mengklaim Maduro dan istrinya ditangkap dengan dukungan aparat penegak hukum AS dan saat ini sedang diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan pidana.

Dalam pernyataannya kepada The New York Times, Trump memuji operasi tersebut sebagai “operasi yang brilian”.

“Banyak perencanaan matang dan keterlibatan pasukan serta personel yang hebat. Itu benar-benar operasi yang brilian,” ujar Trump.

Kementerian Luar Negeri Rusia menilai penangkapan Maduro sebagai “pelanggaran yang tidak dapat diterima terhadap kedaulatan negara merdeka”.

Menurut laporan CNN, Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino López menyebut serangan AS berdampak pada sejumlah kawasan perkotaan di Venezuela, dengan rudal dan roket yang ditembakkan dari helikopter tempur Amerika.

Ia mengatakan pemerintah Venezuela masih melakukan pendataan jumlah korban luka dan tewas akibat serangan tersebut.
“Invasi ini merupakan penghinaan terbesar yang pernah dialami negara ini,” tegas López, seraya menyatakan Venezuela akan menolak kehadiran pasukan asing di wilayahnya.

Serangan AS dan penangkapan Maduro terjadi setelah berbulan-bulan peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Karibia, termasuk pengerahan ribuan pasukan dan belasan kapal perang.

Sejak September lalu, AS juga dilaporkan melakukan serangan terhadap kapal-kapal yang dituding terlibat perdagangan narkoba di Karibia dan Pasifik timur. Namun, Trump sebelumnya telah berulang kali menyatakan ketertarikannya pada perubahan rezim di Venezuela, dengan menuding pemerintah Caracas terlibat “terorisme narkoba” dan pencurian sumber daya minyak.

Dalam wawancara dengan Fox News pada Sabtu, Trump mengatakan Amerika Serikat akan berperan besar dalam industri minyak Venezuela setelah penangkapan Maduro.
(Sumber: sindonews.com)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest Articles